Total Tayangan Laman

Kamis, 15 April 2010

ARTIKEL : TEMA KELUARGA I

TEMA I
MEMPERBARUI POLA HIDUP MENGGEREJA DENGAN PEMBERDAYAAN KRING/LINGKUNGAN DAN KELOMPOK KETEGORIAL

1. Dinamika umat dalam kring/lingkungan/kelompok basis:
A. Kegiatan yang telah dilaksanakan di lingkungan untuk mengupayakan terciptanya persaudaraan antar warga gereja katolik antara lain :
DOA ROSARI. Doa Rosario mendapat penekanan khusus pada Bulan Mei dan Oktober. Doa ini dilaksanakan per lingkungan, stasi, dan kelompok kategorial.. Dalam hal doa rosario umat cukup mandiri, dipimpin oleh umat setempat. Di beberapa Stasi semangat devosi kepada Bunda Maria sungguh hidup. Dalam bulan Oktober dan Mei setiap malam ada doa Roa Rosario Tempat doa dilaksanakan secara bergantian dari rumah satu ke rumah yang lain. Cara ini ternyata cukup menarik umat. Sebab selain ada kebersamaan dalam doa tetapi juga ada kebersamaan dalam komunitas, saling mengunjungi. Di Stasi Sitiung 2E muncul Paguyuban Ratu Rosari. Paguyuban ini sbulan sekali berdoa bersama. Tujuan utama adalah doa panggilan. Dalam doa Rosario, Paguyuban mengitensikan secara khusus doa bagi para Uskup, imam, biarawan/i, dan kaum muda agar mereka terpanggil menjadi pekerja di kebun anggur Tuhan..
PENDALAMAN IMAN. Pendalaman iman secara rutin dilaksanakan seminggu sekali. Bahan pertemuan diambil dari bacaan hari yang bersangkutan atau diambil dari bacaan Minggu berikutnya, atau membahas tentang tema-tema khusus yang berkaitan dengan pengetahuan Iman atau Kitab Suci. Pada masa khusus, bahan diambil dari Komisi Liturgi, Kateketik. Bahan dari Komisi tersebut cukup membantu, meski terkadang kesulitan untuk memahami atau menterjemahkan ke dalam situasi konkrit umat. Untuk mengatasi kesulitan tersebut perlu ada pendampingan dan pertemuan rutin agar bahan bisa dibahas secara bersama. Kesulitan lain, umat yang datang sangat terbatas. Yang aktif pribadi-pribadi tertentu saja. Banyak yang belum terketuk hati untuk terlibat hadir dan juga terlibat dalam pertmuaan.
WANITA KATOLIK RIPUBLIK INDONESIA. WKRI adalah salah satu organisasi yang dapat membantu perkembangan hidup menggereja di Muara Bungo. WKRI menjadi penggerak ibu-ibu separoki. WKRI Cabang Muara Bungo mengadakan pertemuan rutin setahun dua kali; bulan Oktober dan bulam Mei. Acara yang pernah dilakukan adalah: seminar tentang Gerakan saying kehidupan, rekoleksi Pasutri, lomba cerdas cermat, lomba koor, dirigen, Mazmur, pemberian gizi anak, lomba masak, kunjungan orang sakit, Dharma Wanita dll. Selain WKRI Cabang, WKRI ranting juga mengadakan pertemuan rutin. Pertemuan WKRI Ranting secara rutin ada yang dua minggu sekali ada yang sebulan sekali. Pertemuan-pertemuan ini memberdayakan anggota-anggota dalam WKRI itu sendiri sekaliigus memberikan diri keluar. Dari WKRI ini muncul aktipis tenaga sekolah Minggu, Dharma Wanita, PKK, dll. Kehadiran WKRI telah memunculkan terbentuknya koperasi CU WKRI terutama di tiga stasi yakni Stasi Unit VI, Unit II dan Cermin Alam.
NATAL BERSAMA. Stasi Paroki St. Paulus Muara berdiaspora. Stasi yang satu dengan yang lain berjauhan. Demi mewujudkan kebersamaan dan solidaritas satu dengan yang lain maka perayaan Natal diadakan di Wilayah (gabungan dari berbagai stasi). Kebersamaan ini sungguh ditanggapi umat secara positip. Umat akhirnya kenal satu dengan yang lain, merasa diteguhkan dan tidak merasa sendirian.
DANA SOLIDARITAS. Dana yang kami maksud lebih pada perhatian,solidaritas, bukan soal jumlah banyaknya uang atau barang. Paroki menyediakan dana khusus untuk social. Yaitu memberi bantuan kepada keluarga bila ada anggota keluarga yang meningal. Hal demikian dibuat oleh stasi atau lingkungan.
B. 1) Dalam kapasitas sebagai lingkungan atau kring umumnya kami saling mengenal. Pengenalan satu dengan yang lain kami bangun lewal Natal umat Katolik se Kabupaten Tebo, Pertemuan umat separoki (Kunjungan Dewan ke stasi, Krisma, Lelang, rapat pleno, pertemuan WKRI, Mudika separoki, Rekoleksi Anak separoki). Pengenalan terjadi lebih intensif lewat pertemuan kelompok kategorial, wilayah atau kring. Lewat pertemuan-pertemuan tersebut, umat dibantu untuk mengenal situasi umat satu dengan yang lain, termasuk di dalamnya persoalan keluarga, persoalan stasi, lingkungan dll. Meski diakui juga masih ada beberap yang belum mengenal satu dengan yang lain. Paling tidak dengan cara-cara pertemuan itu sedikit demi sedikit ketidakmengenalan bisa ditanggulangi.
2) Sharing dalam pertemuan lingkungan sangat membantu munculnya persoalan-persoalan umat.dan juga harapan umat. Beberapa Umat mulai terbuka untuk mengungkapkan isi hatinya. Meski terkadang juga masih banyak umat yang malu atau ragu mengungkapkan persoalanya. Persoalan yang dibahas pada umumnya persoalan umum, persoalan lingkungan, stasi, paroki atau kemasyarakatan.
3) Paroki Muara Bungo terdiri dari berbagai suku ; Jawa, Batak, Tionghoa, Flores. Ada stasi yang homogen dan heterogen. Stasi yang sukunya dominan tentu lebih dominan pula dalam liturgi. Misalnya, di stasi pusat Bungo mayoritas Batak. Maka dalam perayaan-perayaan yang sifatnya khusus memakai bahwa Batak atau adat Batak. Doa dengan bahasa Batak (dalam punguan, koor misa, tarian Batak) dll. Stasi yang dominant Jawa, dalam pertemuan lingkungan ada yang memakai bahwa Jawa tapi ada yang memakai bahasa Indonseia. Beberapa Stasi Doa Rosario memakai bahasa Jawa. Mendoakan arwah memakai bahasa jawa. Bahasa atau lagu gaya Tionghoa belum tersentuh.
4) Semangat keterlibatan umat kira-kira 70 %:
- Doa Rosario semangat dan keterlibatan sangat tinggi
- Pedalaman Iman khususnya membahas Kitab Suci belum menjadi daya tarik.
C. Kesulitan yang dialami dalam mengupayakan persekutuan
Misalnya, kurang kompak menghadiri pertemuan lingkungan, gotong royong
D. Usaha yang dilakukan untuk mengatasi kurangnya kompakan adalah :
- Berusaha memberi kesadaran umat yang tidak aktif bersama ketua lingkungan.
- Membuat giliran doa di rumah saudara yang belum aktif.
2. Dinamika umat dalam kring/lingkungan/komunitas basis dalam masyarakat
A. Usaha-usaha yang telah ditempuh umat katolik untuk terlibat dalam kegiatan masyarakat adalah gotong royong, mengundang warga muslim pada hari Natal, membantu warga muslim saat hajatan (pesta), terlibat dalam kepengurusan RW/RT. Singkatnya, umat katolik ikut membaur di tengah-tengah masyarakat.
B. Usaha tersebut di atas berjalan dengan baik dan kami merasa diterima dengan penuh persaudaraan oleh warga muslim
C. Tidak ada
D. Memperbanyak kegiatan sosial.
3. Pembinaan
Usaha-usaha yang dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas para pengurus/ketua lingkungan:
a. Mengadakan pembekalan/kaderisasi kepengurusan, misalnya pemimpin ibadat, Lektor, pemazmur, dirigen dan guru sekolah minggu.
b. Usaha tersebut sudah berjalan dengan baik dan mendapat tanggapan positif dari DPP. Pendanaan kegiatan diatas ditanggulangi oleh DPP.
c. Kesulitan yang kami alami dalam kegiatan tersebut adalah kurang disiplin waktu disebabkan jauhya jarak antar stasi dengan paroki.
d. Tidak ada.
4. Kemandirian bidang pendanaan
A. Usaha yang dilakukan untuk menggali sumber dana :
- Arisan lingkungan
- Iuran wajib/bulan Rp. 5.000,- per KK
B. Dikumpul dan disetor ke paroki dan dikelola sepenuhnya oleh bendahara paroki
C. Ada. Tidak semua sadar akan kesepatan yang sudah berjalan.
D. Tidak ada.
5. Tentang Komisi Kateketik, Kitab Suci dan Liturgi
A. Bahan-bahan pertemuan yang dibuat oleh komisi kateketik bagus dan sangat mendukung.
B. Paroki berperan cukup baik (sering diadakannya kegiatan-kegiatan atau pembekalan). Bahan-bahan katekese digandakan dan kemuadian dibagikan ke stasi-stasi.

Tidak ada komentar:

Entri Populer

Laman