Total Tayangan Laman

Kamis, 15 April 2010

ARTIKEL : TEMA KELUARGA III

TEMA III
MEMPERBAHARUI POLA HIDUP MENGGEREJA
DENGAN MEMBERDAYAKAN KAUM MUDA, REMAJA DAN ANAK-ANAK

1. Situasi Kamum Muda Katolik

Kaum muda Paroki St. Paulus Muara Bungo terdiri dari kaum muda pelajar, mahasiswa, dan pekerja. Jumlah kaum muda pelajar lebih banyak di banding mahasiswa atau pekeraja. Sebab setelah lulus SLTA kaum muda yang ingin meneruskan kuliah pindah di kota lain, sedangkan kaum muda pekerja sudah banyak yang sudah menikah. Jumlah kaum muda Paroki St. Paulus Muara Bungo kurang lebih 165 orang. Mereka tersebar di 24 stasi.
Pertemua rutin kaum muda dilaksanakan di tingkat wilayah dan tingkat paroki. Wilayah yang kami maksud adalah kumpulan kaum muda dari berbagai stasi (3-6 stasi) berkumpul bersama di salah satu stasi secara bergantian. Pertemuan untuk tingkat wilayah dilaksanakan sebulan atau dua bulan sekali. Pertemuan para pengurus mudika stasi dan mudika paroki tiga bulan sekali dengan tempat bergiliran dari stasi yang satu ke stasi yang lain. Kegiatan mudika dua kali setahun pada tingkat paroki. Acara yang dilakukan antara lain; lomba nyanyi, nari, olahraga, rekreasi, misa, panitia kuperper, pendalaman iman, drama, natal dan Paskah mudika separoki, pertemuan mudika Sijambu, dekanat III dan Sekeuskupan..
Keterlibatan kaum muda dalam kegiatan cukup baik, dan perlu ditingkatkan terus menerus. Keterlibatan kaum mudika belum menyeluruh. Perlu adanya kaderisasi secara terus menerus. Ada kecenderungan yang aktif atau jadi pengurus orang tertentu dan mudika yang sama. Pada umumnya lebih banyak pasif, menunggu, dan kurang ada greget untuk memberikan diri.
Terhadap kegiatan tersebut mudika semakin mengetahui permasalahan yang dialami mudika di setiap stasi, juga diharapkan mampu memecahkan permasalahan. Pertemuan rutin semakin mempererat keakaraban dan persatuan mudika, paling tidak mengurangi perasaan bahwa mereka tidaklah kaum muda Katolik yang sendirian tak punya teman seiman. Pendalaman iman cukup membantu pemahaman dan pengetahuan tentang iman Katolik.
Presentasi yang ikut dalam pertemuan mudika tingkat paroki 65%-83%, sedangkan presentasi kehadiran mudika tingkat wilayah 50%-70%. Mutu atau kualitas pertemuan cukup baik, dan perlu ditingkatkan terus menerus terutama bagaimana menjadikan mudika yang militan dan bangga menjadi orang katolik. Meski harus diakui bahwa kadang kala materi yang dibahas terkadang kurang menyentuh mudika dan membosankan.
Persoalan-persoalan yang muncul di mudika antara lain:
- Merasa sulit mendapatkan pasangan hidup yang seiman.
- Merasa kurang percaya diri menjadi orang Katolik.
- Kurangnya keterbukaan antar mudika.
- Belum dewasa dalam menghadapi persoalan hidup, mudah kecewa, mudah mengeluh, putus asa.

2. Keterlibatan Kaum Muda Katolik terhadap hidup bermasyarakat

Sebagian kaum muda kita ikut terlibat dalam kegiatan organisasi kepemudaan masyarakat di tingkat RT/RW dan desa. Kegiatan itu misalnya Karang Taruna atau perkumpulan. Kaum muda ikut juga menjaga keamanan atau ketertiban di wilayah masing-masing. Hal ini menunjukkan bahwa mudika menjadi bagian dari masyarakat. Kerjasama khusus antara mudika Katolik dengan masyarakat belum ada.


3. Model Pembinaan Kaum Muda Katolik

Model pembinaan Kaum Muda Katolik adalah pelatihan, kaderisasi, dan pendampingan. Pelatihan dan kaderisasi dilakukan dengan memilih beberapa orang muda untuk melakukan pelatihan khusus. Pelatihan ini pernah dilakukan pada tingkat dekanat. Hasilnya beberapa mudika akhirnya bisa aktif dan mengerakkan mudika paroki tetapi beberapa mudika setelah pelatihan belum ada perkembangan masih pasif.
Model Pendampingan di tingkat paroki atau wilayah adalah partisipasi aktif. Mudika diberi peluang untuk terlibat aktif dalam kegiatan hidup mengereja. Tugas-tugas diberikan kepada mudika: koor, lektor, mengajar anak-anak Sekolah Minggu, Mazmur. Pendalaman iman dipimpin oleh mudika, meski terkadang oleh Frater atau Pastor. Pertemuan-pertemuan rapat atau kegiatan rohani didampingi oleh Pembina kaum muda, meski sering terjadi Pembina kaum muda (keluarga muda yang peduli kepada mudika) jarang hadir. Ada beberapa kesulitan dalam pendampingan kaum mudika, misalnya;
- Kurangnya keaktifan dan keterlibatan kaum muda dalam setiap kegiatan yang melibatkan kaum muda seperti pendalaman iman, pertemuan kaum muda di tingkat paroki seperti acara natal dan paskah bersama.
- Kurangnya dukungan orang tua dalam kegiatan kaum muda.
- Jauhnya tempat tinggal dan transportasi.
- Ada gap atau kelompok;
- Sulitnya komunikasi dan kerjasama antara mudika anak sekolah dengan yang sudah dewasa/kerja.
Upaya jalan keluar yang sudah dlaksanakan yaitu memaksimalkan pertemuan mudika di tingkat basis stasi, dan wilayah. Tingkat wilayah dilakukan secara bergiliran di tiap-tiap stasi. Dukungan penuh dari Paguyuban Cinta Kasih dalam kegiatan Kaum Muda dan pertemuan Sijambu amat membantu. Kegiatan mudika dibuat variasi tanpa mengurangi tujuan pertemuan.

4. Situasi Remaja Katolik

Jumlah Remaja dan Katolik Paroki St. Paulus Muara Bungo kurang lebih 210 anak. Anak Remaja pada umumnya mengikuti kelompok Misdinar.
Kegiatan Remaja dilakukan setiap seminggu sekali. Kegiatan ini diserahkan ke stasi masing-masing. Kegiatan ini misalnya pendalaman iman, rekoleksi, kunjungan, latihan misdinar, latihan koor, kreativitas, menggambar, membuat majalah dinding, pesta keluarga kudus, mencari telur paskah, olahraga, rekreasi dll. Demi kelancaran pendampingan Remaja, Stasi mempercayakan beberaapa orang untuk membina, mendampingi dan mengajar Remaja. Demi kebersamaan, persatuan dan kebersamaan sesama Remaja setahun sekali diadakan rekoleksi di Paroki. Kegiatn ini mendapat tanggapan dan dukungan dari anak dan juga dari orang tua. Hal ini nampak dalam semangat anak untuk berkumpul dan pendampingan orang tua terhadap anak. Keterlibatan Remaja terhadap kegiatan hidup menggereja dilibatkan dalam bidang Liturgy: Koor Remaja, Lektor, Mazmur, Misdinar.



5. Keterlibatan Remaja terhadap hidup bermasyarakat

Keterlibatan Remaja terhadap hidup bermasyarakat secara kelompok belum ada. Keterlibatan lebih pada personal Remaja sebagai anggota sekolah atau masyarakat seperti; ikut lomba cerdas cermat tingkat sekolah, kabupaten dan propinsi.

6. Model Pembinaan Remaja Katolik

Model pembinaan Remaja katolik adalah katekese/pengajaran, rekoleksi.
a. Misdinar
b. Pendalaman Iman
c. Rekoleksi
d. Sekolah Minggu
e. Persipan Komuni Pertama
f. Koor
g. Petugas Liturgi
h. Drama anak-anak
i. Lomba Kitab Suci
j. Lomba Pemasmur
k. Lomba Drama
l. Rekreasi Rohani

7. Situasi Anak-anak Katolik
Jumlah anak-anak katolik semakin bertambah seiring dengan jumlah pasangan keluarga baru. Orang tua pada umumnya sudah mendukung terhadap kegiatan rohani anak-anak misalnya orang tua sudah mengajak anak-anak pergi ke gereja dan mengikuti sekolah minggu.

0 komentar:

Entri Populer

Laman