Total Tayangan Laman

Senin, 12 April 2010

SEJARAH SINGKAT PAROKI ST PAULUS MA. BUNGO


B A B I :
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Secara manusiawi usia 31 tahun dianggap sebagai usia yang sudah dewasa baik dalam hal pemikiran maupun dalam tindakan. Dari segi psikologisnya, orang tersebut sudah dianggap memiliki pribadi yang stabil dan bukan labil. Demikian halnya dengan paroki St. Paulus, Muara Bungo yang pada tanggal 25 Januari 2010 lalu genap berusia 31 tahun. Maka berdasarkan asumsi di atas kiranya paroki ini juga sudah dapat dianggap dewasa.
Namun demikian, dengan usia yang sudah dianggap dewasa itu bukan berarti bahwa perjuangan umat di paroki ini sudah selesai. Perjuangan perlu untuk tetap diisi dan dilaksanakan dengan semakin memajukan paroki ini untuk menjadi semakin lebih baik. Terlebih lagi dalam usahanya untuk mewartakan keselamatan kepada semua orang. Oleh karena itu dalam usaha untuk mengisi dan meneruskan perjuangan tersebut umat paroki ini dirasa perlu untuk mencermati sejarah dan menumbuhkan rasa kepemilikan terhadap parokinya.
Ada kata bijak yang mengatakan “Bangsa yang menghargai jasa pahlawannya adalah bangsa yang mengetahui sejarahnya”. Kata bijak ini mau mengatakan bahwa orang dapat menikmati situasi yang ada sekarang ini tidak terlepas dari peran dan perjuangan orang-orang terdahulu. Oleh sebab itu, Buku Sejarah ini menjadi perlu disusun sedemikian rupa agar umat paroki ini dapat mengisi dan meneruskan perjuangan paroki ini.
Kenyataan yang sering terjadi ialah bahwa banyak orang yang tak peduli bahkan lupa akan sejarahnya. Hal itu mengakibatkan kurangnya usaha untuk mengisi dan meneruskan perjuangan para pendahulunya. Selanjutnya akibat yang muncul adalah kurangnya rasa penghargaan dan kepemilikan terhadap apa yang ada saat ini.

2. Tujuan Penulisan
Penulisan Buku Sejarah Paroki St. Paulus, Muara Bungo ini bertujuan pertama-tama adalah untuk membukukan peristiwa penting yang terjadi di paroki ini. Di samping itu, ada banyak peristiwa dan perjuangan para pendahulu yang membentuk paroki ini yang kiranya perlu untuk diungkapkan dalam buku ini. Perjuangan tersebut tidak terbatas pada para gembala yang pernah melayani di tempat ini tetapi juga para awam di tempat masing-masing yang tanpa pamrih berjuang untuk mendirikan dan membentuk perkumpulan umat.
Penyusunan Buku Sejarah ini juga bertujuan mengajak umat paroki ini untuk bercermin diri melalui usaha dan perjuangan para pendahulunya. Hal itu dimaksudkan untuk menumbuhkembangkan rasa tanggung jawab atas maju mundurnya paroki ini dan menamkan rasa kepemilikan (sens of belonging) terhadap paroki ini.
Melalui penyusunan Buku Sejarah ini umat diajak untuk memutar dan merekam kembali peristiwa-peristiwa fundamental yang terjadi di paroki ini. Seluruh peristiwa itu diharapkan dapat menjadi suatu titik tolak dalam usaha membangun iman yang dinamis.
Akhirnya dengan penyusunan Buku Sejarah ini, tujuan yang mau dicapai ialah agar umat baik di masa sekarang maupun yang akan datang mampu mengisi dan meneruskan perjuangan para pendahulunya. Hal itu dapat terlaksana jika umat mau melihat, mengamati dan menghayati usaha dan perjuangan para pendahulu mereka.

3. Metode Penulisan
Metode penulisan yang dipakai dalam penyusunan Buku Sejarah ini adalah metode; penelitian lapangan ( field research ), wawancara imajinatif dengan menggunakan tulisan yang diberikan oleh nara sumber, dan pengolahan data. Sumber utama yang digunakan ialah data, informasi dan para pelaku sejarah yang masih hidup sampai saat ini. Kemudian untuk melengkapi data-data dan mengungkapkan obyektifitas sejarah paroki ini maka kami menggunakan sumber-sumber lain yang dianggap akurat.
Pemaparan tentang sejarah paroki yang tertuang dalam Buku Sejarah ini menggunakan metode deskriptif. Metode tersebut dipilih karena sangat mendukung dalam penggarapan Buku Sejarah ini. Oleh karena itu kami memusatkan perhatian pada penggunaan metode deskriptif tersebut.

4. Sistematika Penyajian
Buku Sejarah ini disajikan dalam bentuk yang sistematis. Hal ini dimaksudkan agar para pembaca dapat mengikuti jalan atau proses sejarah paroki ini secara runtut. Maka untuk dapat melihat hal itu secara keseluruhan akan dibagi lima bagian;
Bab pertama adalah pendahuluan. Pada bagian ini memaparkan latar belakang penulisan Buku Sejarah ini, tujuan, metode penulisan dan sistematika penyajiannya.
Bab kedua yakni selayang pandang paroki St. Paulus, Muara Bungo. Pada bagian ini akan dipaparkan cikal-bakal umat Katolikyang ada di Muara Bungo ini. Selanjutnya, umat Katolik yang hanya berkumpul beberapa orang tersebut kemudian dapat menjadi banyak dan bahkan sekarang menjadi umat paroki yang mandiri.
Bab ketiga yakni paroki St. Paulus dan stasi-stasinya. Pada bagian ini perhatian pembaca akan diarahkan pada sejarah dan perkembangan stasi-stasi paroki St. Paulus.
Sejarah stasi yang dahulu adalah orang-orang Katolik yang kehilangan jati diri hingga sekarang menjadi umat stasi paroki St. Paulus, Muara Bungo. Sejarah yang dahulunya hanya beberapa stasi saja kini stasi paroki ini berjumlah 27 stasi. Sejarah stasi tersebut dimulai dari awal berkumpulnya beberapa orang hingga sekarang dapat berkumpul di tempat ibadat yang telah dibangun. Oleh karena itu dalam pemaparannya akan ditampilkan tokoh-tokoh pemrakarsa stasi tersebut.
Di samping itu, akan dilihat juga bagaimana perjuangan umat stasi baik dalam proses pembentukan perkumpulan umat maupun tempat ibadat atau disebut dengan kapel.
Bab keempat ialah tanggapan para tokoh umat diparoki ini dan para pelayan rohani yang pernah berkarya di paroki ini. Pada umumnya, tokoh-tokoh pelaku sejarah masih hidup sampai saat ini. Hal ini mempermudah mengetahui obyektifitas sejarah paroki ini. Namun dalam hal ini kami akan menggunakan wawancara fiktif. Hal itu disebabkan para pelaku sejarah, khususnya para pelayan rohani yang pernah berkarya diparoki ini, sedang berkarya di paroki lain.
Bab kelima atau bab terakhir adalah bagian penutup. Bagian penutup ini meliputi; rangkuman, saran dan harapan.

B A B II
PAROKI ST. PAULUS DI MUARA BUNGO

1. Muara Bungo sebagai Daerah Trasmigrasi dan Perantuan.
Pada tahun 1977 daerah Bungo telah menjadi wilayah kekabupatenan. Muara Bungo dijadikan sebagai ibu kota kabupaten. Oleh karena itu sejak saat itu Kabupaten Bungo adalah salah satu daerah kabupaten dari propinsi Jambi.
Daerah ini menjadi salah tujuan atau sasaran program pemerintah yakni transmigrasi. Warga Indonesia yang mengikuti program ini umumnya berasal dari pulau Jawa. Sedangkan warga yang berasal dari Sumatera lebih sedikit. Umumnya warga yang berasal dari pulau Sumatera ini datang atau merantau ke daerah ini oleh karena kemauannya sendiri. Berbeda dengan warga yang berasal dari pulau Jawa datang atau merantau ke daerah ini karena mengikuti program transmigrasi.
Menurut para pelaku sejarah, saat itu yakni tahun 1977-an daerah ini masih banyak dan luas daerah hutan. Belum ada sarana dan pra-sarana transportasi yang baik. Kondisi jalan umumnya masih buruk karena belum ada jalan aspal, melainkan hanya jalan tanah. Untuk menempuh jarak antara Muara Bungo dan Jambi dibutuhkan waktu selama lebih kurang dua hari. Hal itu menunjukkan bahwa Muara Bungo ini masih merupakan daerah yang belum banyak dihuni oleh orang.
Seiring dengan perjalanan waktu daerah ini berkembang dengan pesat. Menurut para pelaku sejarah yang masih hidup, Muara Bungo dalam kurun waktu 25 tahun mengalami perkembangan yang pesat, baik dari segi pembangunan fisik kota maupun penduduknya. Hal ini terbukti bahwa saat ini bangunan-bangunan megah di daerah ini sudah berdiri. Bangunan-bangunan yang dimaksudkan misalnya pertokoan, persekolahan serta perkantoran. Perkembangan itu tak terlepas dari faktor pertambahan penduduk melalui program transmigrasi. Di samping itu, faktor yang lebih menyebabkan Muara Bungo berkembang pesat adalah posisi kota Muara Bungo sebagai lintas Sumatera – Jawa. Oleh sebab itulah Muara Bungo dikenal sebagai Kota Lintas. Para perantau dari berbagai daerah berdatangan ke daerah ini untuk mempertahankan hidup.

1.1. Segi Penduduk
Muara Bungo memiliki penduduk yang majemuk. Suku-suku yang terdapat di daerah ini yakni Penduduk asli (daerah Muara Bungo), Jawa, Minang, Batak, China, dan sedikit keturunan India.
Kemajemukan penduduk Muara Bungo baik dari segi suku maupun agama tidak menjadi halangan dalam melaksanakan kegaiatan sehari-hari. Dengan kemajemukan itu juga belum ada keributan atau kekacauan yang bermotifkan SARA (Suku, Agama dan Ras). Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa toleransi hidup dalam perbedaan suku ataupun agama bukanlah suatu penghalang bagi penduduk Muara Bungo ini dalam melakasanakan kegiatan hidup sehari-hari.

Segi Geografis
Muara Bungo merupakan perbatasan
2. Motivasi dan Inisiatif Umat Awal dalam membentuk Komunitas
Manusia yang berada di negeri orang (perantau) selalu ingin mempertahankan identitas dirinya. Identitas yang bermuara pada jati diri menjadi suatu pengenalan akan dirinya. Identitas yang dimaksudkan misalnya suku atau agama yang dianut. Dengan itu manusia memiliki pengharapan bahawa sekalipun di negeri orang ia dapat mempertahankan jati dirinya.
Demikian halnya dengan komunitas awal yang ada di Muara Bungo. Mereka adalah para pendatang dengan berbagai alasan. Namun demikian secara umum dapat disimpulkan bahwa kedatangan mereka di Muara Bungo ini adalah salah satunya karena faktor ekonomi. Mereka datang dari berbagai daerah yang berbeda-beda. Tidak hanya itu, tetapi juga latar belakang kebudayaan yang juga berbeda. Oleh karena itu sudah tentu mereka tidak saling kenal satu sama lain.
Dalam situasi yang sedang mencari identitas dan jati diri sebagai orang Katolik, mereka ternyata memiliki suatu keinginan untuk membentuk suatu komunitas atau perkumpulan Katolik. Keinginan itu terwujud dalam suatu bentuk usaha di antara mereka masing-masing. Usaha itu pun membuahkan suatu hasil yang menggembirakan bahwa ternyata ada beberapa orang Katolik yang sama-sama memiliki motivasi dan inisiatif yang sama untuk membentuk komunitas Katolik. Pada saat itu dapat dikatakan bahwa mereka sudah menemukan identitas dan jati diri mereka bersama saudara seiman.
Menurut para pelaku tokoh, pada tahun 1977 di Muara Bungo sudah ada lima kepala keluarga umat Katolik, salah satunya yakni keluarga Bpk. FX. Soebroto. Beliau adalah kepada Bank Rakyat Indonesia (BRI) cabang Muara Bungo yang ditugaskan di Muara Bungo. Dapat dikatakan bahwa atas usaha beliau dapat terbentuk komunitas kecil di Muara Bungo ini.
Pada saat itu, perjumpaan dan pembicaraan beliau dengan salah seorang umat Protestan yakni Bpk. Pasaribu membuahkan hasil bahwa ternyata ditemukan lima kepala keluarga umat katolik yang berdomisili di Muara Bungo. Dengan demikian pada tahun 1977 merupakan tonggak berdirinya paroki Muara Bungo.
Dalam proses usaha untuk mencari identitas dan jati diri sebagai umat katolik bersama dengan yang lain, dapat dikatakan bahwa secara tak langsung saat itu sudah terbentuk komunitas kecil umat katolik. Kemudian komunitas kecil inilah yang akan menjadi cikal bakal dari umat katolik yang ada sekarang di Muara Bungo ini.
Keberlangsungan kegiatan rutin setiap hari Minggu, komunitas kecil umat Katolik ini masih mengalami suatu kendala yakni belum ada gereja untuk melaksanakan ibadat. Sehubungan dengan itu, saat itu sudah ada suatu komunitas umat Protestan dan tempat ibadatnya. Kristen Protestan yang dimaksud adalah Huria Batak Kristen Protestan (HKBP). Menurut para pelaku sejarah, komunitas kecil umat katolik tersebut sempat mengikuti peribadatan mereka pada hari Minggu karena belum ada gereja katolik. Namun tidak berapa lama kemudian muncul suatu gagasan untuk melakukan peribadatan secara tersendiri. Oleh karena itu peribadatan atau ibadat sabda untuk yang pertama kalinya dilaksanakan di salah satu ruangan kantor Bank Rakyat Indonesia (BRI). Penyediaan tempat ini diprakarsai oleh Bpk. FX.Soebroto sebagai kepala BRI tersebut. Peribadatan atau ibadat tersebut dipimpin oleh Bpk.WEK. Purba.
Situasi seperti diceriterakan di atas berjalan dengan lancar. Bahkan pada proses perjalanan kegiatannya, komunitas ini melaksanakan ibadat di rumah-rumah umat secara bergiliran. Namun ternyata komunitas kecil yang telah terbentuk tersebut memiliki gagasan untuk mengundang seorang pastor untuk melayani kebutuhan rohani mereka, khususnya pada hari Minggu. Mereka bersepakat untuk mengundang pastor dari paroki Jambi. Ternyata oleh pihak paroki Jambi undangan tersebut ditanggapi dengan positif. Sebagai tanggapan atas undangan itu maka oleh pihak paroki Jambi mengutus seorang pastor untuk mendatangi Muara Bungo.


3. Kehadiran Pastor Kooijman, SCJ di Muara Bungo
Pada pertengahan tahun 1977, paroki Jambi digembalakan oleh dua orang pastor yakni P. Kooijman, SCJ. dan P. Henk van Lierop, SCJ. Sementara itu yang menjadi pastor parokinya adalah Pastor Kooijman, SCJ.
Dalam menanggapi undangan komunitas umat kecil dari Muara Bungo itu maka P. Koijman, SCJ sendiri yang datang. Setelah melihat sendiri, ternyata P. Kooijman menemukan ada beberapa umat katolik di Muara Bungo. Oleh karena itu pelayanan pastoral pun dilaksanakan di Muara Bungo secara rutin. Namun karena keadaan sarana dan pra-sarana transportasi yang kurang baik, maka frekuensi pelayanan pastoralpun hanya dapat dilaksankan dua kali dalam sebulan.
Melihat kenyataan itu, P.Kooijman SCj., merasa adanya suatu “lahan subur” di Muara Bungo ini. Maka pada tahun 1979 tenaga pastoral ke Muara Bungo ini ditambah lagi yakni P. Henk van Lierop, SCJ. Kedua pastor ini tidak berhenti hanya sampai di Muara Bungo. Dalam proses perjalanan pelayanan pastoral kedua pastor ini memekarkan jangkauan pelayanan ke daerah-daerah transmigrasi. (Pada bab III; Paroki St. Paulus dan Stasi-stasinya, akan dapat di lihat bagaimana perjuangan kedua pastor ini dalam usaha memekarkan jangkauan pelayanan pastoral mereka).

4. Muara Bungo sebagai salah satu Paroki dari Keuskupan Palembang
Pelayanan pastoral yang diprakarsai oleh P. Kooijman, SCJ dan P. Henk van Lierop, SCj, menampakkan hasil yang amat mengesankan. Pelayanan yang dimulai dari tahun 1977 ternyata dua tahun kemudian Muara Bungo telah diresmikan menjadi suatu paroki dari keuskupan Palembang. Peristiwa bersejarah itu terjadi persis pada bulan Januari 1979. Muara Bungo sebagai paroki mengambil nama pelindung yakni Santo Paulus. Sementara itu yang menjadi pastor parokinya adalah P. Henk van Lierop, SCJ. Itu berarti bahwa beliau adalah pastor paroki yang pertama di paroki St. Paulus, Muara Bungo.
Saat itu umat yang berdomisili di Muara Bungo sebanyak sepuluh kepala keluarga, yang terdiri dari pegawai negeri sipil (PNS),

B A B III
PAROKI ST. PAULUS DAN STASI-STASINYA

Setelah melihat dengan jelas perkembangan Muara Bungo sebagai suatu paroki, maka pada bagian ini akan dilihat secara khusus bagaimana perkembangan stasi-stasinya. Pada bagian ini akan ditemukan bahwa ternyata ada beberapa stasi yang terlebih dahulu dilayani oleh pastor dibandingkan stasi pusat. Hal itu disebabkan wilayah yang masuk ke dalam paroki Muara Bungo saat ini, pada saat itu merupakan stasi paroki lain yang termasuk dalam keuskupan Padang. Beberapa stasi yang dimaksudkan adalah stasi Sitiung.
Oleh karena itu akan tampak juga nanti bahwa ada pastor yang melayani di stasi tertentu tetapi tidak melayani di stasi yang lain.

1. Muara Bungo sebagai Stasi Pusat
Pusat berdirinya satasi pusat adalah bersamaan dengan sejarah berdirinya Gereja Katolik Muara Bungo. Pada saat itu diawali pada tahun 1977 dengan jumlah umat sebanyak lima kepala keluarga yang terbnetuk dalam suatu komunitas kecil.

2. Sejarah Perkembangan Stasi-stasi Paroki St. Paulus, Muara Bungo.
Beberapa stasi paroki St. Paulus Muara Bungo merupakan bagian dari salah satu paroki yang ada di keuskupan Padang. Pelayanan pastoral telah dirasakan oleh umat tersebut. Stasi-stasi yang dimaksudkan ialah Stasi yang tergabung dengan rayon Sitiung. Pengabungan itu didasarkan pada alasan bahwa, dengan berdirinya paroki di Muara Bungo, akan lebih efektif dalam memberikan pelayanan pastoral.
Oleh karena itu dapat dipahami bahwa sebelum paroki st. Paulus Muara Bungo berdiri secara resmi sudah terbentuk beberapa stasi. Tetapi sebagian besar pembentukan stasi-stasi paroki ini dimulai dari awal. Artinya terjadi perjumpaan, perbincangan dan pertemuan dari beberapa umat katolik untuk membentuk suatu komunitas kecil (Stasi).

2.1. Rayon Sitiung
Seperti yang telah disinggung di atas, wilayah Sitiung merupakan daerah perbatasan antara Propinsi Jambi dan Sumatera Barat. Daerah perbatasan ini (Sitiung) merupakan daerah transmigrasi. Umumnya orang yang mengikuti program trasmigrasi tersebut adalah penduduk dari pulau Jawa. Program trasmigrasi itu dilandasi alasan-alasan tertentu dari pihak pemerintah. Ada alasan karena mau meneruskan hidup di daerah transmigran dengan harapan dapat memperbaiki tingkat perekonomian keluarga. Ada yang mengikuti program transmigran karena ikut-ikutan saja. Tetapi ada juga yang ikut transmigran karena tanah mereka dipakai oleh pemerintah untuk melaksanakan pembangunan di daerah tersebut. Sehingga ada kesan bahwa mereka mengikuti program transmigrasi itu diwarnai unsur keterpaksaan. Unsur keterpaksaan itu sebagian mencakup juga mengenai agama yang dianut oleh mereka yang mengikuti transmigrasi. Artinya mereka dituntut untuk menganut satu agama mayoritas. Sekalipun hal itu hanya sebatas formalitas (KTP) untuk mendapatkan kemudahan-kemudahan di lahan trasmigrasi.
Ternyata dari sekian banyak penduduk Jawa yang mengikuti program trasmigrasi itu terdapat umat katolik. Mereka juga dituntut seperti yang lain untuk mengikuti aturan yang di buat oleh pemerintah. Namun tidak berapa lama kemudian ada umat yang dengan berani mempertahankan identitasnya sebagai orang Katolik. Dan keberanian mereka itu diikuti oleh umat Katolik yang lain sehingga dalam waktu yang tidak lama terbentuklah beberapa stasi di daerah transmigran tersebut.
Oleh karena itu, pada bagian ini akan dilihat bagaimana sejarah dan perkembangan stasi-stasi tersebut. Perkembangan stasi-stasi dalam hal jumlah yang semakin banyak memunculkan ide menggabungkan mereka untuk lebih terorganisir. Maka oleh pihak paroki stasi-stasi tersebut digolongkan dalam beberapa rayon. Oleh karena itu berikut ini akan kita lihat bagaimana sejarah dan perkembangan rayon Sitiung.

2.1.1. Stasi Sitiung I E
Rayon Sitiung terdiri dari lima stasi yakni; Sitiung I E, II C 7, IIE, Sitiung I blok B dan D, dan yang terakhir Sitiung IV blok A. Dari kelima stasi yang terdapat di rayon Sitiung ini diakui bahwa yang pertama kali yang menjadi stasi dari paroki Muara Bungo adalah Sitiung I E. Setelah menjadi stasi maka pencarian umat yang berada di pemukiman transmigran di mulai dari stasi ini.
Berawal dari perkenalan P. Morini SX, dengan keluarga Bpk. Kamso yang telah bermukim di pemukiman transmigran. Perkenalan itu berlanjut dengan niat untuk mempersatukan umat katolik yang tinggal di pemukiman transmiran Sitiung I E ini. Berkat usaha dan kerja keras beliau berdua
2.1.2. Stasi Sitiung II C
Pada tahun 1978, Pastor Morini, SX (pastor dari salah satu paroki – keuskupan Padang) bersama dengan Bpk. Kamso mengunjungi daerah ini. Mereka menemukan ada enam kepala keluarga umat Katolik di daerah ini. Tiga kepala keluarga di Sitiung II C 6 dan tiga kepala keluarga lagi di II C 7. Mengingat jarak yang tidak terlalu jauh, lebih kurang satu kilo meter, maka kedua daerah ini dijadikan satu satu stasi yakni Sitiung II C.
Umat di stasi ini mengalami kemunduran dalam hal jumlah umat. Umat yang berjumlah tiga kepala keluarga yang ada di II C 6 semuanya meninggalkan Gereja. Berbagai macam alasan yang menyebabkan hal itu terjadi. Alasan yang pertama ialah karena mereka kurang atau tidak mempunyai niat untuk mempertahankan iman mereka. Alasan lain ialah karena permasalahan perkawinan yang beda agama.
Oleh karena itu, umat yang ada di stasi ini hanya berjumlah dua setengah kepala keluarga. Sekalipun mereka hanya berjumlah dua setengah kepala keluarga, tetapi mereka merasa sehati sepikiran. Dengan kata lain mereka merasa akrab dan kompak satu sama lain. Dengan demikian dapat dikatakan stasi ini menjadi stasi yang terkecil yang berada dalan rayon Sitiung.

2.1.3. Stasi Sitiung II E
Umat yang ada di stasi ini berasal dari pulau Jawa yakni Gajah Mungkur, Batu Retno. Pada tanggal 8 Maret 1978 mereka mengikuti program transmigrasi. Umat yang terdiri dari beberapa kepala keluarga langsung dihantar oleh Pastor Wignyo Sumarto, Pr. sebagai pastor paroki Batur Retno. Tujuan daerah yang dituju adalah Padang, tepatnya di stasi ini yakni Sitiung II E. Setelah sampai di tempat, oleh pastor Wignyo Sumarto, Pr. umat diserahkan kepada Departemen Agama setempat pada tanggal 13 Maret 1978.
Pad tanggal 15 Maret 1978, mereka telah berada di tempat yang dimaksudkan. Dan mereka menjalankan kegiatan sehari-hari. Dalam hal keagamaan mereka tetap menjaga kesatuan sebagai umat Katolik. Pada hari Minggu mereka melaksanakan peribadatan di rumah-rumah secara bergiliran. Peribadatan itu sendiri dipimpin oleh Bpk. Aris Tides Keman. Demikianlah kegiatan peribadatan mereka setiap hari Minggu sembari menantikan kunjungan atau pelayanan dari pastor yang akan melayani mereka.
Atas usaha dan perjuangan Bpk. Kamso dan Pastor Morini, SX (pastor dari Padang), umat di stasi ini mendapat kunjungan dan pelayanan dari pastor tersebut. Frekuensi pelayanan ke stasi ini menjadi rutin yakni sekali dalam sebulan. Mengingat kesibukan Pastor Morini, SX yang semakin banyak, maka tenaga pastor ditambah lagi dan stasi ini pun mendapat pelayanan dari beliau. Tenaga pastor yang baru itu ialah Pastor Sabdo Utomo, SJ. sebagai pastor pembangtu yang juga adalah pastor dari Padang.
Umat di stasi ini menunjukkan tanda bahwa akan berkembang. Hal itu nampak dengan adanya perhatian dan bimbingan khusus dari pastor Morini, SX yang telah menghasilkan adanya Katekumen (calon resmi umat Katolik). Dan akhirnya mereka diterima resmi menjadi umat Katolik. Bersamaan dengan itu pada saat yang sama sudah ada permandian bagi umat baik yang dewasa maupun anak-anak. Selain itu diadakan penataran bagi umat yang mengangkat tema tentang lingkungan hidup.
Pada tahun 1980 Pastor Morini, SX sudah tidak mampu lagi melayani umat di stasi ini karena kekuatan fisik yang sudah berkurang. Oleh karena itu pelayanan kepada umat diserahkan kepada Pastor Sabdo Utomo, SJ. Pelayanan beliau hanya belangsung selama lebih kurang setengah tahun terhadap stasi ini.
Pada tahun 1981 stasi ini mengalami suatu peralihan pelayanan. Pelayanan umat di stasi ini yang awalnya dari salah satu paroki – keuskupan Padang diserahkan oleh Pastor Sabdo Utomo, SJ. kepada salah satu paroki dari keuskupan Palembang. Paroki tersebut ialah Muara Bungo. Saat itu pastor parokinya ialah Pastor Henk van Lieroop, SCJ. Semenjak saat itu pelayanan ke stasi ini dari paroki St. Paulus, Muara Bungo.
Sekalipun ada peralihan pelayanan namun peribadatan tetap dilaksanakan dari rumah ke rumah. Selama lebih kurang satu setengah tahun hal itu berjalan. Melihat hal itu umat di stasi ini berniat dan berinisiatif untuk mendirikan suatu tempat khusus untuk beribadat. Hal itu mereka sampaikan kepada pastor paroki Muara Bungo. Oleh beliau ditanggapi dengan positif. Berawal dengan pembelian tanah untuk lokasi pembangunan tempat beribadat dengan luas ukuran seperempat hektar. Selain itu juga dibelikan tanah untuk lahan (pangan) seluas satu hektar.

2.1.4. Stasi Sitiung I B dan D
Diawali dengan beberapa umat Katolik yang bersuku Flores yang dengan rajin mengikuti ibadat di Sitiung I blok E. Pada tahun 1980, muncul seseorang yang merasa penasaran melihat kelompok umat tersebut. Hingga pada suatu saat rasa penasaran itu dicari jawabannya dengan bertanya langsung kepada mereka. Jawaban mereka itu menjadi suatu cikal-bakal terbentuknya stasi ini. Beliau adalah Bpk. Yusuf Sumarsono. Walaupun beliau belum dipermandikan di Katolik tetapi beliau dari keluarga Katolik. Niat beliau untuk bergabung dengan umat Katolik menunjukkan titik cerah. Terbukti pada saat giliran misa di rumah umat Flores tersebut, beliau datang dan diperkenalkan dengan Pastor Sono Pribadi, SCJ. Dan tidak beberapa lama kemudian beliau dipermandikan bersama dengan keluarganya.
Namun demikian berdirinya stasi ini tak terlepas dari usaha Bpk. Kamso. Sebab sesungguhnya terbentuknya beberapa stasi di daerah Sitiung merupakan hasil kerja sama antara P. Sono Pribadi, SCJ dan Bpk. Kamso.
Oleh karena itu tidak beberapa lama kemudian stasi ini dinyatakan oleh Bpk. Kamso sebagai stasi tersendiri. Dalam perjalanannya stasi ini dikoordinir oleh Bpk. Kamso. Dan karena kekuatan fisik beliau yang tak memungkinkan untuk mengunjungi umat di stasi ini maka pada tahun 1990 secara resmi daerah ini menjadi suatu stasi dengan ketuanya yakni Bpk. Yusuf Sumarsono.
Namun demikian stasi ini terdiri dari dua daerah transmigrasi yakni Sitiung I B dan D. Sekalipun terdiri dari dua daerah tetapi jumlah umatnya tidak seberapa. Jumlah awal umat di stasi ini hanya dua kepala keluarga. Dan sampai sekarang stasi ini berjumlah enam kepala keluarga dengan perincian dua kepala keluarga di I B dan empat kepala keluarga di I D.

2.1.5. Stasi Sitiung IV A
Pada tahun 1984, Pastor Sono Pribadi, SCJ bersama dengan Bpk. Kamso mengunjungi daerah ini. Dan ternyata di daerah ini ditemukan ada tiga kepala keluarga umat Katolik. Tiga kepala keluarga tersebut satu di blok B dan dua di blok A. Oleh karena itu saat misa pertama dirayakan di rumah umat yang ada di bolk B, yaitu di rumah Bpk. Sular. Sementara umat yang dari blok A datang berkumpul bersama untuk merayakan misa di rumah Bpk. Sular tersebut.
Dalam perjalanan waktu, umat bertambah banyak. Pada tahun 1990, umat di stasi ini bertambah sehingga berjumlah enam kepala keluarga. Umat yang bertambah itu berdomisili di blok A. Itulah sebabnya, mengapa misa diadakan di rumah umat yang ada di blok A sampai sekarang. Dan itu jugalah sebabnya stasi ini memakai nama stasi Sitiung IV blok A.
Namun demikian, seiring dengan perjalanan waktu ternyata stasi ini mengalami kemunduran dalam hal jumlah. Kemunduran jumlah itu disebabkan beberapa hal yakni; perpindahan domisili, adanya gejala kurangnya semangat dalam hidup menggereja dan adanya perkawinan beda agama. Artinya anak-anak umat yang mau menikah ternyata menikah secara Islam. Sekalipun demikian umat di stasi ini masih tersisa empat kepala keluarga sampai sekarang.
Peribadatan atau misa yang dilakukan di stasi ini lebih sering memakai rumah Bpk. Maino. Hal itu berawal dari tahun 1995. Bahkan pada suatu saat beliau mendirikan kapel atas inisitif dan swadaya sendiri dari beliau. Kapel itu terletak di samping rumahnya. Namun tidak berapa lama kemudian kapel itu dirobohkan. Perobohan itu tidak jelas disebabkan oleh karena apa dan oleh siapa. Sehingga kegiatan peribadatan kembali seperti semula yakni dari rumah ke rumah.

2.1.6. Stasi Simpang TKA
2.2. Rayon Rimbo Bujang
2.2.1 Stasi Rimbo Bujang Unit II.
2.2.2 Stasi Rimbo Bujang Unit VI.
2.2.3 Stasi Rimbo Bujang Unit IX.
2.2.4 Stasi Rimbo Bujang Unit X.
2.2.5 Stasi St. Yosef, Rimbo Bujang Unit XII.
Stasi ini berdiri pada tahun 1980 bersamaan dengan masuknya transmigrasi di daerah ini. Pada saat itu muncul tokoh umat yang dengan gigihnya berniat untuk membentuk suatu paguyuban umat beriman Katolik. Beliau adalah Bapak Witono. Bersama dengan beberapa kepala keluarga yang memiliki niat yang sama ternyata dapat terwujud keinginan untuk membentuk paguyuban umat katolik. Dalam paguyuban itu terhitung kepala keluarga sebanyak tiga belas kelapa keluarga. Sedangkan dalam hitungan jumlah jiwa sebanyak lebih kurang 56 jiwa.
Sementara latar belakang kedatangan mereka di daerah ini adalah warga transmigrasi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) dari pulau Jawa.
Beberapa tokoh pemrakarsa berdirinya stasi ini tersebutlah Bp. Witono, Bp. Amir, Bp. Aloysius Parmin dan Bp. FX. Wiryo.
Pendirian stasi ini tak terlepas dari tantangan dan halangan dari pihak pemrintah dan masyarakat setempat. Menurut para pelaku sejarah yang masih hidup dan yang tersebut di atas, permasalahn yang muncul dari pihak pemerintah melalui Kantor Urusan Agama (KUA) yakni pelarangan terhadap pendirian gereja katolik. Sedangkan dari masyarakat setempat mendapat pelarangan yang sama seperti daripihak pemerintah. Namun larangan itu justru lebih berat karena dibarengi dengan ancaman bahwa gereja yang akan didirikan itu akan dibakar.
Namun perjuangan umat di stasi ini tidak surut, melainkan mereka tetap melanjutkan pembangunan gereja. Alhasil, sampai sekarang gereja yang dibangun itu telah digunakan sebagaimana mestinya fungsi dan kegunaannya sebagai gereja Dan sampai sekarang tidak ada permasalahan dan tantangan lagi dari pihak pemerintah dan masyarakat setempat berkaitan dengan gereja sebagai bangunan dan Gereja sebagai umat Katolik.
Proses pembangunan
2.2.6 Stasi Rimbo Bujang Unit XV.
2.2.7 Stasi Cermin Alam.
2.3. Rayon Alai Ilir.
2.3.1 Stasi Alai Ilir Blok F.
2.3.2 Stasi Alai Ilir Blok E.
2.3.3 Stasi Muara Tebo.
2.3.4 Stasi Lubuk Kambing.
2.4. Rayon Hitam Ulu.
2.4.1. Stasi Hitam Ulu IV.
2.4.2. Stasi Hitam Ulu V.
2.4.3. Stasi Hitam Ulu XIV.
2.4.4. Stasi Tanah Garo.
2.5. Rayo Kuamang Kuning.
2.5.1 Stasi Kuamang Kuning IV – VI.
2.5.2 Stasi Kuamang Kuning VIII – XI.
2.5.3 Stasi Kuamang Kuning XVII.
2.6. Rayon Muara Bungo.
2.6.1 Stasi Muara Bungo.
2.6.2 Stasi Tita Sari.
2. Statistika Pertumbuhan Umat Katolik Paroki St. Paulus, Muara Bungo
3. Pertumbuhan Panggilan Menjadi Imam, Biarawan-biarawati


B A B IV
KOMENTAR PARA PASTOR YANG PERNAH BERKARYA
DAN PARA PELAKU SEJARAH DI PAROKI INI


Pengantar

Sejak keberadaan umat Katolik di Muara Bungo ini telah dilayani oleh para pastor dari Serikat hati Kudus Yesus (SCJ). Diawali pelayanan yang dimulai oleh pastor Henk van Lieroop, SCJ sampai sekarang paroki ini dilayani oleh pastor Aegidius M.W. SCJ.
Sebagai pastor yang melayani di paroki tertentu, mereka memiliki visi dan misi tertentu pula. Visi dan misi itu disesuaikan dengan situasi dan keadaan umat setempat. Demikian juga halnya dengan para pastor yang pernah berkarya di paroki ini. Mereka memiliki visi dan misi yang secara umum disesuaikan reksa pastoral yang ditawarkan oleh pihak keuskupan. Tetapi selain itu mereka juga menekankan reksa pastoral pada pelayanan yang dianggap mendesak di paroki ini.
Dari sekian banyak pastor yang telah menjalani masa karya mereka di paroki ini ada beberapa yang mengalami beberapa periode. Misalnya Pastor Alex Miskat SCJ. Beliau mengalami masa berkarya di paroki ini sampai tiga periode. Demikian juga halnya dengan Pastor Felix Astono Atmojo, SCJ yang mengalami masa berkarya selama dua periode.
Pada kesempatan ini tim redaksi penyusun Buku Sejarah Paroki ini menghimpun informasi atau komentar mereka berkaitan dengan saat mereka berkarya di paroki ini. Informasi atau komentar yang dihimpun oleh tim redaksi berbentu tulisan. Namun oleh tim redaksi hal itu di susun dengan menggunakan metode wawancara imajinatif. Hal itu dimaksudkan agar pembaca dapat memahami dengan mudah dan menarik. Sekalipun informasi atau komentar yang berbentuk tulisan itu disusun dengan menggunakan metode wawancara imajinatif, namun oleh tim redaksi diusahakan untuk tidak mengurangi inti dan hakekat dari informasi dan komentar mereka itu.
Berikut ini akan dipaparkan hasil wawancara imajinatif antara tim redaksi dengan beberapa pastor yang dihubungi oleh tim redaksi.


Nama : RM. FX. Tri Priyo Widarto,SCJ
Tahbisan : Teluk Betung, Lampung 29 November 1995
Tugas Sekarang : Visma Vijaya Praya (SCJ II) Jl. Wulung No. 9A, Papringan - Yogyakarta 55281 (Pendamping Frater dan Bruder)
Karya di Paroki St. Paulus – Muara Bungo : Januari 1995 – Februari 1996 (Sebagai Diakon dan Imam Baru)

Wawancara ini dilakukan antara tim Editorial Buku Sejarah Paroki St. Paulus Muara Bungo (Tim) dengan Romo (Romo) :

Tim : Selamat Pagi Romo !!!
Romo : Selamat pagi. Apa kabar? Ada apa ini ? Koq tumben?
Tim : Begini Mo, kita sedang menyusun buku sejarah Paroki St. Paulus Muara Bungo. Jadi kami minta beberapa informasi dari Romo. Romo punya waktu nggak ?
Romo: Soal waktu sich …(terdiam sebentar sambil mengingat jadwal pada hari tersebut)…nggak ada ada masalah! Yang penting anda “mengerti”. Silahkan! Apa yang mau ditanya?
Tim: Setelah lama nggak ketemu, kelihatannya Romo semakin kokoh aja. Apa sich rahasianya ?
Romo: Ha..ha..ha..ha!!! Apanya yang kokoh? Secara fisik, seorang romo harus terus menjaga kesehatannya, agar bisa melayani dan bekerja dengan baik. Kalu sakit-sakitan, umatnya nanti bagaimana?
Tim: Sebagai Paroki yang hidup ditengah-tengah masyarakat mayoritas, menurut romo, bagaimana dinamika umat di Paroki St. Paulus- Muara Bungo ?
Romo: Umat di Paroki ini, sangat dinamis dan penuh vitalitas. Walaupun sebagian besar umatnya adalah pendatang, tapi mereka mampu menunjukka jati dirinya sebagai gereja yang hidup.
Tim : Maksud romo ?
Romo: Maksud saya, walaupun umat tersebar dibeberapa wilayah yang berjauhan, sarana transportasi yang sangat terbatas, bahasa dan suku yang berbeda, akan tetapi tidak menjadi halangan untuk berkumpul.
Tim : Dalam peristiwa dan acara apa kondisi yang romo maksud dapat terlihat?
Romo: Misalnya, dalam acara Paroki. Baik acara anak-anak, remaja, Mudika ataupun dewasa, jumlah peserta selalu banyak dan kualitas keterlibatan mereka juga baik.
Tim : Jadi kalau boleh kami simpulkan, romo senang ya bertugas di paroki kami ?
Romo: Jelas dong !!! Belum tau dia …!
Tim : Tapi, walaupun senang pasti ada hal yang masih perlu kritik?
Romo: Oh ya !!! Saya mempunyai kesan bahwa Paroki St. Paulus seperti “Gereja Ibu-Ibu” ?
Tim : Apa maksudnya mo…? Sebagai Pria Katolik, kami juga sontak mendengar kesan ini ?
Romo: Coba anda amati, dalam Ekaristi, Ibadat, Doa lingkungan, kehadiran kaum bapak jauh lebih sedikit dibandingkan dengan kaum ibu.
Tim : Jadi apa harapan romo mengenai keadaan ini ?
Romo: Saya mengharapkan, melalui peristiwa pesta perak ini, menjadi momentum kebangkitan kaum bapak untuk terlibat lebih aktif dalam kegiatan gereja dan pelayanan.
Tim : Berbicara tentang keterlibatan umat dan regenerasi, bagaimana pengkaderan terhadap umat seharusnya dilakukan ?
Romo: Pengkaderan itu penting !! Para tokoh umat senior harus “menangkap” keluarga-keluarga muda agar mau terlibat dalam kehidupan menggereja, memberi kesempatan kepada mereka untuk tampil dan mengambil bagian secara aktif.
Tim : Jadi menurut romo, keberhasilan suatu Paroki bukan semata-mata karena gerejanya besar, umatnya banyak, kolektenya besar?
Romo : Benar!!! Keterlibatan umat dan sikap kebertanggung jawaban umat terhadap gereja, itu jauh lebih penting.
Tim : Baiklah mo, karena romo ada acara lain. Kami mau mohon pamit. Terima kasih banyak untuk waktu yang telah romo berikan.
Romo : Terima kasih juga, anda masih ingat sama saya dan minta pendapat saya. Saya juga mau mengucapkan selamat atas “PESTA PERAK PAROKI SANTO PAULUS MUARA BUNGOI” Semoga Paroki ini semakin maju dan berkembang dalam berkat Tuhan Yesus dan Bunda Maria.





Nama : Romo Yosef Kurkowski, SCj
Tahun karya di Paroki St. Paulus Muara Bungo : Nopember 1987 – Juni 1994

Tim : Sebagai romo paroki, selama berkarya di Aproki kami, apa kesan umum yang romo rasakan?
Romo : Kesan Manis. Kesan Pahit tidak ada !!! Walaupun pelayanan di paroki ini boleh dibilang sangat melelahkan karena mencakup 33 stasi (termasuk Pamenang dan Bangko), dengan jarak yang jauh dan keadaan jalan yang kadang berlumpur, banyak tantangan, umat yang heterogen (batak, Jawa, Cina, Flores), namun saya menjalankan semua ini dengan senang hati dan bersemangat.
Tim : Selama menjalankan karya pastoral di paroki St. Paulus, siapa saja yang membantu pekerjaan pastoral romo?
Romo : Pada 2 (dua) tahun pertama saya dibantu oleh Fr. Diakon Thomas Suratno, SCJ. Selanjutnya dibantu para Toper maupun Penpas. Tanpa bantuan mereka mereka semua, saya yakin bahwa karya pastoral di Paroki ini dtidak dapat dilaksanakan dengan baik.
Tim : Disamping para Frater, Diakon, Toper, di Paroki kita ada Kongregasi Suster Jeanne Delanoue, bagaimana relasi Romo dengan karya SJD ini ?
Romo : Saya membangun relasi yang baik dengan SJD. Karya SJD yang melembaga bersama dengan para karyawannta sangat membantu dalam karya pasrtoral di aproki ini, baik dalam pelayanan kesehatan, pendidikan maupun yang langsung berhubungan dengan program paroki untuk pembinaan terhadap Anak-anak, remaja, Ibu-ibu.
Tim : Apakah suster SJD juga mau diajak terlibat langsung dalam pelayanan ke stasi-stasi ?
Romo : Mau sekali !!! Kalau saya ke stasi, ada suster dan perawat yang ikut bersama saya, untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi umat dan masyarakat setempat. Dalam pembinaan putra altar dan persiapan misa (di stasi pusat atau distasi daerah) SJD sangat terlibat dan sangat membantu. Juga dalam soal kebutuhan perut. Saya sering diundang makan bersama menyantap makanan Perancis. Para suster SJD juga jago masak…. Benar lho!
Tim : Dibandingkan dengan paroki-paroki lain tempat romo pernah berkarya selama 32 tahundi Indonesia, bagaimana penilaian romo terhadap kehidupan umat dalam menggereja di paroki ini ?
Romo : Menurut saya….. (terdian sejenak & wajah romo terlihat menjadi lebih serius) umat Paroki ini sudah cukup mandiri dan dewasa dibanding dengan Paroki lain yang pernah saya layani.
Tim : Bagaimana romo menilai hal ini?
Romo : Misalnya, ketika romo tiak dapat hadir sesuai jadwal atau sedang tifdak ada ditempat, umat tetap berkumpul dan melakukan ibadat sabda. Hal ini tetap berlangsung terus setiap kali romo tidak ada. Ini khan bukti kedewasaan dan kemandirian mereka ???…..Peran seorang katekis juga sangat membantu, misalnya di Stasi Sitiung, ada Pak Made, kegiatan iman dan menggerja umat terasa lebih hidup dan aktif.
Tim : Oh ya mo, Romo khan sudah WNI. Kapan resminya dan apa pengaruhnya dalam komunikasi dengan tokoh masyrakat, pemerintah dan tokoh agama di Kabupaten Bungo ?
Romo : Permohonan untuk menjadi WNI dikabulkan tgl. 27 Januari 1990 dan Saya resmi menjadi WNI tanggal 21 Februari 1990. Sebelum saya, Romo Van Liero, SCJ (Alm) juga sudah menjadi WNI. Setelah saya, Sr. Marianne SJD., juga menjadi WNI tgl. 19 Maret 1990. Dalam berkomunikasi dengan mereka saya tidak mengalami kesulitan. Saya meperlakukan mereka sebagai teman dan saudara. Pada saat lebaran saya selalu mengunjungi mereka. Sebaliknya, pada saat natal mereka juga datang ke pastoran. Kondisi ini sangat menyenangkan.
Tim : Selama berkarya di Paroki St. Paulus, mengapa romo memberi perhatian yang sangat besar kepada pembinaan misdinar dan panggilan ?
Romo : Betul…! Saya memang memberikan perhatian besar kepada pembinaan misdinar dan panggilan. Saya yakin bahwa melalui pembinaan yang dimuali sejak dini secara sistematis, anak-anak mulai mencintai pelayanan. Dan diharapkan mereka menjadi lebih peka untuk menanggapi panggilan Tuhan.
Tim : Bagaimana hasil perjuangan dan kerja keras romo dalam membina panggilan terhadap orang-orang muda tersebut ?
Romo : Paroki ini merupakan ladang yang subur tempat tumbuhnya panggilan.Sudah beberapa dari mantan misdinar tersebut sudah menjadi Pastor, Frater dan beberapa lagi masih di Sem inari.
Tim : Bisa romo ingat kira-kira siapa saja mereka ?
Romo : Tentu ….! Rm. Mulyono SCJ, Rm.Sugiarto SCJ, Rm. Sukino Pr, Rm. Ridwan Naibaho Pr., Fr. Tarapul Manihuruk SCJ, Fr. Sunaryo SCJ, Fr. Frelly Pr, Fr. Sagino (Adik Romo Sukino). Saya masih ingat semua wajah-wajah mereka ketika mereka semua masih imut-imut (baca : anak-anak)
Tim : Sebagaimana romo lihat sendiri, mayoritas umat katolik di stasi pusat dan dibeberapa stasi adalah suku batak. Apa kesan romo terhadap mereka selama melayani di Paroki ini ?
Romo : Pada mulanya agak sulit sebab saya ndak punya pengalaman bergaul dengan umat suku batak..Namun setelah melewati waktu beberapa tahun, saya mengalami kegembiraan dan senang bergaul dengan mereka. Bahkan waktu ketemu dengan mereka tahun 2002 yang lalu, mereka minta saya kembali bertugas di Bungo.
Tim : Romo mau nggak ….?
Romo : Waktu saya jawab “YA” saya mau. Tapi lebih baik saya tunduk kepada perintah atasan. Sebab semuanya sudah di “ATUR” oleh atasan.
Tim : Maksud romo siapa …?
Romo : ya Uskup…!!! Siapa lagi…? (kelihatan romo agak bingung mendengar pertanyaan tim yang agak tolol ini. Maklum… yang bertanya : Doruli)

Tidak ada komentar:

Entri Populer

Laman