Total Tayangan Laman

Sabtu, 16 April 2011

VISI DAN MISI PAROKI ST PAULUS MUARA BUNGO

VISI DAN MISI

MENGGEREJA UMAT ALLAH

DI PAROKI SANTO PAULUS MUARA BUNGO

A. Visi

Visi paroki merupakan penggambaran cita-cita Gereja masa depan yang ingin dicapai dan menjadi jati diri setiap pribadi umat beriman. Visi ini bertitik tolak pada keprihatinan dan tantangan yang dialami di kabupaten Muara Bungo, Tebo dan sekitarnya, sehingga setiap umat diajak untuk mencermati, merenungkan dan mengambil langkah dalam kehidupan menggereja.

Dalam musyawarah paroki umat sinode II di Keuskupan Agug Palembang, Paroki Santo Paulus Muara Bungo menetapkan Visi, yaitu:

“Gereja Katolik Paroki Santo Paulus Muara Bungo adalah paguyuban umat Allah yang secara aktif membarui diri, membangun iman yang mendalam, tangguh, mandiri, solider dan berjiwa misioner dalam persaudaraan yang tulus kepada semua orang dengan semangat Kristus”

Visi tersebut sesuai dengan pernyataan Konsili Vatikan II (Gudium et Spes no.1) yang menyebutkan : “Kegembiran dan harapan ,duka dan kecemasan manusia dewasa ini , terutama yang miskin dan terlantar , adalah kegembiran dan harapan, duka dan kecemasan murid- murid Kristus pula “ .

Memaknai visi :

Visi yang telah dirumuskan itu dapat dijelaskan makna yang terkandung, sehingga setiap orang mengerti maksud dan isi serta tujuan. Kita dapat membangi dalam tiga pemahaman dasar :

  1. Gereja Katolik St. Paulus Muara Bungo adalah Paguyuban Umat Allah yang secara aktif membarui diri.

Maksud dari pernyataan itu bahwa setiap umat beriman yang telah dibaptis dan diterima secara resmi ke dalam Gereja katolik merupakan paguyuban umat Allah yang tinggal dan hidup dalam wilayah Paroki St. Paulus Muara Bungo. Paguyuban umat Allah berarti kesatuan dan kebersamaan dari seluruh wilayah, stasi atau paguyuban-paguyuban yang ada dan sudah terbentuk, sehigga terjadi persaudaraan yang mengimani dalam Yesus Kristus.

Memperbarui diri secara terus menerus merupakan suau gerak dinamika dari setiap pribadi untuk bertobat. Gereja yang bertobat adalah pribadi-pribadi umat Allah yang rendah hati dan tulus ikhlas mempertanggungjawabkan imannya dalam masyarakat, menentukan arah dasar hidupnya dan menata ulang mentalitas pribadi dari hal-hal yang tidak baik dan tidak benar. Gereja yang memperbarui diri merupakan pelopor reformasi rohani untuk menata nilai-nilai moral dan sosial, yakni damai, kasih dan keadilan dalam hidup bermasyarakat.

Kita mengangkat pandangan kepada Yesus Kristus ; « marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju pada Yesus, yang memimpin kita dalam iman dan yang membawa iman kita kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib, ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan tahta Allah » Ibrani 12 :2. Kita percaya bahwa dalam manusia-Yesus-Kristus, Allah sendiri datang untuk menyelamatkan kita, dengan taat samapai mati di salib, Yesus membuktikan kasih sayang Allah Bapa kepada kita. Ia mengajak kita untuk bertobat dan mengikuti jejak-Nya agar kita selamat. Kita yang percaya pada sabda Yesus Kristus itu merupakan umat-Nya: Gereja dipanggil untuk melanjutkan karya penyelamatan-Nya . Kita ditugaskan untuk saling memperkuat dalam iman dan untuk pergi ke seluruh dunia dan memberitakan kabar genbira kepada segala mahluk (Mrk 16:15) Dan Ia berjanji bahwa Ia akan menyertai kita sampai akhir zaman (Matius 28:20).

Dengan demikian Gereja paroki St. Paulus Muara Bungo diutus untuk mebangun keidupan umat dan kesatuan dalam Roh Kudus serta untuk menjadi saksi Kristus dalam masyarakat. Agar kita setia dalam panggilan itu, kita harus senantiasa bertobat dan selalu membarui diri.

  1. Membangun Iman Yang Mendalam, Tangguh, Mandiri Solider.

Gereja yang membarui diri dalam pertobatan terus menerus akan membuahkan iman yang mendalam, tangguh, mandiri dan solider.

a. Membangun iman mendalam

Membangun iman mendalam berarti dalam setiap pribadi umat beriman mempunyai hubungan yang dekat dengan Yesus Sang Penyelamat. Karena relasi mendalam dengan Yesus itu, maka pengetahuan akan kekayaan pengajaran tentang Gereja Katolik sudah mengendap dan terbatinkan dalam diri masing-masing. Hal ini di capai melalui pertemuan lingkungan, stasi dan juga keberanian diri sendiri untuk membaca Kitab suci dan buku-buku rohani katolik.

b. Beriman tangguh

Berarti setiap orang yang telah beriman mendalam, ia beriman tangguh karena tidak mudah diombang-ambing oleh ajaran lain atau ajaran kristen lain dan tidak tergoda untuk pindah agama . Dalam situasi sulit dan menderita, ia tegar dengan keputusan hati untuk beriman kepada Kristus dalam Gereja Katolik. Umat Katolik Santo Paulus Muaro Bungo harus membangun daya tahan iman, tangguh. Gereja selalu mendapat tekanan, ancaman dan penganiayaan. Iman, harapan dan cinta kasih, harus semakin kuat sehingga tahan banting. Menyadari keadaan yang demikian, maka kesetiaan katolik menuntut keberanian, pengorbanan, dan kesetiaan untuk menderita. Dengan demikian, Gereja harus tetap bertahan dalam kesulitan, ketelantaran, diskriminasi dan perlakuan sebagai minoritas.

c. Gereja yang mandiri

Berarti umat Paroki santo Paulus muara Bungo di harapkan semakin mandiri dalam hal: mutu rohani, personalia, dan sarana, material. Umat tidak perlu terus menerus di suapi, dapat membentuk iman yang tangguh, dapat memancarkan identitas kristiani dalam masyarakat, terlebih dalan stasi, lingkungan atau kring. Kekayaan rohani umat akan tercermin dalam jumlah dan kualitas hidup religius serta dalam semangat pelayanan Gerejawi dari kaum awam yang cukup untuk memenuhi kebutuhan Paroki Santo Paulus Muara Bungo yang selalu bertambah. Paroki hendaklah selalu memikirkan bagaimana stasi-stasi yang ada di lingkup Santo Paulus Muara Bungo ini bisa maju. Namun hal ini sulit dapat terwujud jika yang memikirkan hanya pastor, suster dan salah satu atau dua umat saja. Gereja mandiri dapat terwujud jika seluruh umat, terlebih yang mempunyai talenta lebih, masing-masing bersedia untuk menyumbangkan kemampuan diri yang ia miliki.

d. Gereja yang solider

Berarti setiap pribadi umat beriman itu memiliki spritualitas sosial. Di sekitar kita banyak orang dililit kemiskinan. Mereka ini sering kita bicarakan namun kenyataannya mereka kita singkirkan, kita lupakan tanpa harapan akan perbaikan nasib, tidak pernah dimintai pendapat: padahal mereka itu adalah saudara-saudari kita. Tetapi justeru dalam saudara-saudari kita miskin dan lemah itu, Yesus sendiri bertemu dengan kita (Mat 25: 3-46, bdk. Mat 5: 3-12; Luk 4: 16-21; 16,19-31). Oleh karena itu, Gereja Paroki santo Paulus Muara Bungo mengajak seluruh umat memberikan perhatian utama kepada saudara-saudari kita yang miskin dan lemah ini. Untuk itu mari kembangkan suatu spiritualitas sosial, sebuah kepekaan baru bahwa Tuhan Yesus Kristus menitipkan saudara-saudari yang miskin dan lemah itu kepada kita. Kita harus bersetiakawan dengan mereka. Memang dunia mereka tidak atau kurang kita kenali, mereka hampir tidak menghiasai pola kehidupan umat-umat kita. Spiritulitas sosial berarti kita senantiasa sadar bahwa ibadah, pelayanan, persekutuan kita harus terbuka bagi orang-orang miskin, harus senantiasa terbuka dalam keprihatinan akan keadaan mereka. Kita dipanggil untuk menyumbangkan: pola pikir, tenaga, perjuangan, dana, perasaan (hati) agar mereka semakin bebas dari kemiskinan.

  1. Berjiwa Misioner Dalam Persaudaraan Yang Tulus Kepada Semua Orang Dengan Semangat Kristus

Umat Katolik Santo Paulus Muara Bungo harus mempunyai semangat misioner. Ia tidak boleh puas diri, tidak membatasi pemeliharaan keutuhan dan keselamatan diri sendiri; ia merasa diutus ke dalam masyarakat dengan mewartakan kabar keselamatan dan menjadi ragi pembaharuan dalam masyarakat. Umat Katolik Santo Paulus Muara Bungo harus mau dan bisa menjadi saksi Kristus, sehingga masyarakat sekitar akan terpesona kepada kita karena perbuatan, tingkah laku, tutur kata kita dan segala yang kita perbuat. Akhirnya kita memancarkan daya pikat. Kita dapat mencontoh umat Kristen pertama di Yerusalem; mereka berkumpul, berdoa bersama, dan berbuat baik terhadap sesama serta menunjukkan suatu persaudaraan yang membuat heran masyarakat sekitar. ”Mereka disukai semua orang” (bdk. Kis 2: 41-47). Kita menjadi saksi Kristus bukan hanya dengan kata-kata tapi juga dengan contoh hidup yang baik, dengan perbuatan nyata, dan persaudaraan yang tulus. Untuk itu, Gereja harus memberi semangat, kekuatan, harapan, hiburan, ketenteraman, dan menjadi inspirasi dalam masyarakat.

Jadi, misioner itu menyemangati dan tinggal dalam setiap pribadi, sehingga ia tidak dapat hanya mempunyai kesalehan pribadi tetapi iman kepada Kristus itu memancar dan memantul kepada setiap orang yang kita jumpai. Dengan demikian, persaudaraan kita semakin luas karena kita mampu menerima orang lain siapapun orangnya. Inilah semangat Kristus. Tuhan Yesus menerima siapa saja yang datang kepadanya. Lihatlah wanita Samaria, dia bukan Yahudi diterima oleh Yesus. Keterbukaan, keselamatan terjadi kalau kita juga membuka diri bagi orang lain, maka keselamtan dan kabar gembira juga dirasakan oleh mereka. Inilah semnagat misioner kita.

B. Misi

Misi adalah uraian terencana yang dijalankan dalam aksi atau tindakan konkrit baik secara bersama-sama maupun secara pribadi. Rencana itu dimaksudkan untuk meraih dan mewujudkan visi, sehingga cita-cita bersama yang ditetapkan dalam arah dasar itu sungguh-sungguh terjadi dan terlaksana dalam diri setiap murid Kristus. Oleh karena itu, misi untuk pengejawantahan visi :

  1. Meningkatkan kerja sama dan komunikasi yang harmonis antar-umat di lingkungan, stasi, dan secara umum dalam keseluruhan paroki; terutama dalam pendalaman iman dan pendalaman Kitab Suci.

  1. Menggalakkan dan menyemangati umat untuk penerimaan Sakramen Pengakuan Dosa sebagai wujud pembaharuan diri.

  1. Meningkatkan pemahaman dan penghayatan akan ajaran Kristiani dengan butir-butir refleksi/renungan yang secara terus-menerus diasah:

a. Eklesiologi

1) Pemahaman tentang Gereja dalam ajaran Konsili Vatikan II

2) Gereja sebagai persekutuan (communion/communio)

3) Gereja sebagai Sakramen keselamtan

4) Gereja kita dalah Gereja Diaspora.

b. Kristologi

1) Dasar iman Kristiani: Kristus Tuhan, Ia bangkit.

2) Yesus Kristus yang sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia, Dialah sungguh-sugguh Allah dan keselamtan kita.

3) Kristus adalah mediator keselamatan (juru selamat satu-satunya).

c. Sakramentologi

1) Sakramen Inisiasi (baptis-ekaristi-krisma) adalah dasr hidup dalam Gereja

2) Sakramen Ekaristi adalah sumber dan puncak hidup Gereja.

3) Teologi hari Minggu da Devosi ( terutama Rosario dan Hti Kudus Yesus)

d. Memahami Ajaran Sosial Gereja

1) Ensiklik Sosial dari Rerum Novarum sampai Centiumus Annus

2) Nota Pastoral Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) :

· Tahun 2003: Keadilan Sosial bagi semua orang

· Tahun 2004: Menuju Habitus Baru Bangsa. Keadilan sosial bagi semua : Pendekatan Sosio-Budaya

· Tahun 2006: Habitus Baru: Ekonomi yang berkeadilan. Keadilan bagi semua: Pendekatan sosio-budaya.

  1. Meningkatan pelayanan kepada orang kecil, miskin dan terpinggirkan; terutama para buruh.

  1. Memotivasi setiap umat beriman untuk menyatakan sikap berani membela kebenran, kejujuran dan keadilan dalam tugas dan tanggung jawab di lingkungan kerja.

  1. Membangun secara terus- menerus dialog kehidupan (artinya hubungan baik setiap hari dengan tetangga dekat, relasi dengan rekan kerja, bisa juga dengan orang yang berbeda agama dan dijumpai setiap hari) dalam kehidupan bermasyarakat.

  1. Meningkatkan pelayanan dan perhatian kepada pendidikan agama Katolik bagi anak-anak sekolah negeri.

Demikianlah visi dan misi yang terurai di atas, kita berkeyakinan bahwa tiap orang akan menjadi pribadi yang hidup dan tinggal dalam masyarakat dengan menghubungkan pengahayatan iman dan tindakan dalam kehidupan bermasyarakat. Iman akan Kristus menjiwai hidup bersama masyarakat luas.

0 komentar:

Entri Populer

Laman