Rabu, 14 Desember 2016


Lagu Ave Maria,  Keroncong Rohani Katolik oleh Group Keroncong Regina Caeli Musik (RCM) Wilayah Muara Bungo ,Paroki St. Paulus Muara Bungo dalam Acara Mimbar Agama Katolik " Roti Kehidupan " BVS TV Bungo 2016

Lagu Sayup Lembut,  Keroncong Rohani Katolik oleh Group Keroncong Regina Caeli Musik (RCM) Wilayah Muara Bungo, Paroki St. Paulus Muara Bungo dalam Acara Mimbar Agama Katolik " Roti Kehidupan " BVS TV Bungo 2016

Lagu Kidung Sabda MU,  Keroncong Rohani Katolik oleh Group Keroncong Regina Caeli Musik (RCM) Wilayah Muara Bungo, Paroki St. Paulus Muara Bungo dalam Acara Mimbar Agama Katolik " Roti Kehidupan " BVS TV Bungo 2016


·        

·         Lagu Ndherek Dewi Maria Keroncong Rohani Katolik oleh Group Keroncong Regina Caeli Musik (RCM) Wilayah Muara Bungo, Paroki St. Paulus Muara Bungo dalam Acara Mimbar Agama Katolik " Roti Kehidupan " BVS TV Bungo Oktober 2016

Senin, 05 Desember 2016

PROFIL PAROKI ST. PAULUS MUARA BUNGO



PROFIL PAROKI ST.PAULUS MUARA BUNGO
I.                   Nama dan Alamat
a.     SANTO PAULUS Muara Bungo
Alasan :
Meneladani semangat St. Paulus dalam mewartakan injil, serta melaksanakan tugas pelayanan terhadap umat maupun sesama, merupakan keniscayaan bagi umat Paroki St. Paulus Muara Bungo. Memang tidak mudah meneladani rasul besar tersebut. Situasi yang dihadapi oleh rasul  berbeda dengan situasi saat Paroki St. Paulus Muara Bungo mulai dirintis. Rasul Paulus menghadapi berbagai tantangan berat saat membangun Gereja Perdana: penolakan ditengah orang-orang Yahudi, bahkan menyebabkan pengikut Kristus dianggap kafir, rasul Paulus juga harus berhadapan dengan kekuasaan, kekerasan, dan sebagainya.
b.      Jl. Sapta Marga, Kel. Sei. Pinang Po Box 10 Ma. Bungo
c.      Mulai berdiri pada pertengahan tahun 1977, dan peringatan ulang tahun paroki pada tanggal 25 Januari.
II.                Geografis
A.    Deskripsi Wilayah Secara Geografis
Gereja Paroki St. Paulus Muara Bungo terletak di kelurahan Sei. Pinang, Kota Muara Bungo,  Jambi. Awalnya, daerah tersebut adalah daerah rawa-rawa. Karena daerahnya luas dan strategis, maka rawa-rawa tersebut ditimbun dan didirikan gereja paroki, pastoran, asrama, serta aula, dan proses pendirian TK Xaverius dan Play Group Jeane Delanoe di belakang gedung asrama. Selain itu, akses masuk ke gereja juga gampang, karena kondisi jalan yang cukup bagus. Dengan wilayah yang cukup luas dan strategis ini, Gereja merasa sangat terbantu dalam melaksanakan berbagai kegiatan.
Di sisi lain, kami sangat sulit untuk mendapatkan air bersih. Enam mata air yang telah disiapkan juga tak kunjung memberi hasil yang memuaskan. Selain itu, jika musim hujan tiba, air hujan tersebut akan menggenang untuk beberapa hari. Kini, mulai dirancang strategi untuk menanggulangi hal-hal tersebut.
Paroki Muara Bungo memiliki lahan pastoral yang sangat luas, mencakup dua propinsi (Jambi dan sebagian kecil Sumatera Barat) dan kurang lebih mencakup empat kabupaten. Paroki ini dibagi menjadi 5 wilayah, antara lain: wilayah Bungo, Rimbo Bujang, Kuamang Kuning, Sitiung dan Alai Ilir.
Ke arah utara, daerah pelayanan paroki Muara Bungo sampai ke HPH dan Rantau Jaya (dekat Air Molek Sum-Bar). Ke arah barat, daerah pelayanan sampai ke PT. TKA (kabupaten Solok Selatan Sum-Bar dan sudah berada di kaki gunung Kerinci). Ke arah Timur, daerah pelayanan sampai ke Sungai Ibul (perbatasan dengan daerah pelayanan Jambi). Daerah stasi yang luas ini kadang juga ditempuh dengan waktu yang cukup lama. Pada umumnya, hampir setiap stasi dapat ditempuh dengan mobil. Hanya terkadang, apabila turun hujan, daerah-daerah tertentu juga sangat sulit untuk dijangkau.  
*. Peta Terlampir
B.     Jumlah Lingkungan
a.       Lingkungan St. Yosef
-          Komposisi Umat
*      Jumlah umat …… 36 ………. KK
*      Etnis/suku  batak 40%, jawa 30% dan 30 % lainya suku campuran.
*      Pekerjaan umat merata sebagai kayawan dan guru
*      Jarak tempuh dari paroki menuju rumah umat sekitar 15 menit
*      Dan keaktifan umatnya bisa dikatakan cukup baik dan aktif dalam kegiatan menggereja.


b.      Lingkungan St. Mikhael
-          Komposisi Umat
*      Jumlah umat ………… 31 ………kk
*      Etnis/suku batak 60%, jawa 30 % dan 10 % lainnya suku campuran
*      Pekerjaan umat antara lain sebagai guru, pns, pedagang dan petani
*      Jarak tempuh dari paroki menunju rumah umat kisaran 15 menit
*      Dan keaktifan umat dalam hidup menggereja cukup aktif.

c.       Lingkungan St. Petrus
-          Komposisi Umat
*      Jumlah Umat …… 23 ………. KK
*      Etnis/suku 80 % batak,
*      Pekerjaan umat antara lain guru, pns, pedagang dan petani
*      Jarak tempuh dari paroki menuju rumah umat kisaran 15 menit
*      Dan keaktifan umat dalam hidup menggereja

d.      Lingkungan St. Fransiskus
-          Komposisi Umat
*      Jumlah umat … 40 … KK
*      Etnis/suku 40 % batak,  10 % jawa, 50 % cina, dan beberapa suku campuran
*   Pekerjaan umat antara lain guru, pns, pedagang dan petani
*      Jarak tempuh dari paroki menuju rumah umat 15 menit
*      Dan keaktifan umat dalam hidup menggereja cukup aktif.
 
e.       Lingkungan St. Maria
-          Komposisi Umat
*      Jumlah umat … 13 … KK
*      Etnis/suku batak, jawa
*      Pekerjaan umat antara lain guru, pns, pedagang dan petani
*      Jarak tempuh dari paroki menuju rumah umat
*      Dan keaktifan umat dalam hidup menggereja cukup aktif.

f.       Lingkungan St. Benediktus
-          Komposisi Umat
*      Jumlah umat …… 16 ........... KK
*      Etnis/suku batak, jawa
*      Pekerjaan umat antara lain guru, pns, pedagang dan petani
*      Jarak tempuh dari paroki menuju rumah umat
*      Dan keaktifan umat dalam hidup menggereja cukup aktif

C.  Stasi dan Tempat Misa

 


III.                   PERSONALIA
A.    PARA PASTOR YANG PERNAH BERTUGAS DIMUARA BUNGO

 



B.   Jumlah Katekis Full Time :
·        I. Made Sukana

IV.                  Demografi

a.      Kebudayaan
80 persen umat di wilayah Bungo (stasi pusat) adalah umat suku Batak, 20 persennya adalah orang Jawa, Tionghoa, dan Nias. Sementara untuk di daerah stasi, suku mayoritas adalah orang Jawa. Ada juga stasi-stasi yang didominasi oleh suku-suku tertentu, misalnya: Suku Batak (Lubuk Mandarsah, Tebo, Asam Merah, Rimbo B2), suku Nias (Sitiung 4A), suku Timor/Atambua (TKA dalam). Pada umumnya, umat Katolik berada di sekitar umat Muslim dan suku-suku asli.
Dengan kondisi dan latar belakang kebudayaan yang sungguh beragam ini, saya merasa sangat terbantu untuk belajar menempatkan diri dan belajar berpastoral dengan kemajemukan yang ada. Tidak dapat dipungkiri bahwa keberagaman ini terkadang juga menjadi kendala untuk mewujudkan rencana kegiatan. Alasannya adalah karena perbedaan prinsip-prinsip yang ada di setiap budaya. Walau demikian, umat juga berusaha untuk menghindari sikap-sikap yang mengarah pada sukuisme belaka.

b.      Keagamaan
Seperti di kebanyakan tempat, umat Katolik di Paroki Muara bungo adalah umat yang minoritas. Baik di wilayah paroki maupun stasi, lingkungan umat katolik berada di tengah-tengah umat Islam yang menjadi umat mayoritas. Pada umumnya, umat yang beragama lain juga menghargai perbedaan iman. Namun di daerah-daerah tertentu, ada juga yang masih bersikap fanatik sempit terhadap agamanya. Misalnya di daerah sitiung (SumBar), umat sekitar (non Katolik) ada yang merasa keberatan jika di rumah umat tertentu (Katolik) diadakan ibadat.
Selain adanya fenomena tersebut, di daerah stasi yang memiliki jumlah umat relatif sedikit juga menemukan kesulitan tersendiri. Cukup banyak kaum muda yang meninggalkan Katolik dengan alasan terbatasnya pasangan yang seiman. Kadar dan kualitas iman yang kurang kuat membuat mereka kurang teguh dalam pendirian imannya.

c.       Ekonomi
Umat Katolik yang berdomisili di sekitar paroki memiliki mata pencaharian yang beragam, yakni guru, pengusaha (toko), karyawan-karyawan kantor, pedagang, dan lain-lain. Sementara itu, untuk mata pencaharian umat di daerah stasi umumnya bersifat homogen, yakni petani, baik di lahan sendiri atau sebagai buruh di sebuah perusahaan tertentu.
Untuk umat yang bekerja sebagai buruh perusahaan pada umumnya adalah pendatang. Mereka juga tidak tinggal menetap selamanya. Karena itu, terkadang pelayanan ke daerah-daerah seperti itu juga tidak bertahan lama. Alasannya, kalau umat yang bekerja di perusahaan itu habis (tidak betah atau kontrak habis), praktis pelayanan ke daerah tersebut akan terhenti. Misalnya, pelayanan ke PT. IFA.

II.               Kelompok- kelompok Kategorial

Dalam bidang kategorial pendidikan, Yayasan Xaverius memiliki TK, SD dan SMP Xaverius yang berlokasi di Muara Bungo. Sekolah ini menjadi bagian dari pastoral di paroki Muara Bungo dan dikoordinasi oleh Rm. Gading, Pr. Di bidang kategorial yang lain, paroki Muara Bungo juga memiliki wadah untuk pastoralnya, seperti: OMK, Misdinar, Asmika, WKRI dan beberapa organisasi atau perkumpulan yang dibentuk berdasarkan suku atau daerah, seperti paguyuban-paguyuban: Paguyuban Cinta Kasih, Bonapasogit, Puspo Kanthil, dan sebagainya. Sementara untuk layanan kesehatan, sebelumnya telah ada Balai pengobatan yang di koordinasi oleh Susteran SJD, namun pada tahun 2013 palai pengibatan tersebut di tutup oleh Pemerinta Muara bungo.
OMK Muara Bungo memang kurang terdata dengan baik. Tidak ada kegiatan rutin yang dilakukan setiap minggunya. Meski demikian, OMK masih berusaha terlibat aktif dalam kegiatan menggereja, yakni ikut dalam tugas liturgi ekaristi, menjual benda-benda rohani, petugas parkir di gereja, dan membuat kegiatan bersama (natalan, BKSN, penggalangan dana, dll). Jumlah OMK separoki berkisar 100 orang.
Misdinar di wilayah paroki lebih terkoordinir dengan baik. Mereka selalu mengadakan pertemuan rutin, yakni setiap hari sabtu sore. Jumlah mereka (wilayah paroki) kurang lebih 25 anak. Sementera untuk di daerah stasi, stasi yang memiliki misdinar hanya stasi-stasi besar saja, seperti di Sitiung 2E, Alai Ilir Blok F, dan Rimbo B 2.
Seperti misdinar, Asmika juga terkoordinasi dengan baik. Jadwal sekolah minggu untuk Asmika dilaksanakan pada Hari Minggu selesai Misa. Baik misdinar maupun Asmika didampingi oleh suster dan beberapa pendamping yang lain.